Selasa, 01 Desember 2015

USTADZ MUHAMMAD MUNIF, TOKOH PENDIDIKAN AL-IRSYAD

Ustadz Muhammad MunifTokoh Al-Irsyad asal Bogor ini telah mengabdikan dirinya untuk kepentingan dan pengembangan Al-Irsyad secara keseluruhan, baik untuk Al-Irsyad Bogor maupun untuk Al-Irsyad secara keseluruhan.
Al-Ustadz Muhammad Munief adalah salah satu tokoh paling penting di awal sejarah Al-Irsyad. Ia murid langsung Syekh Ahmad Surkati di Madrasah Al-Irsyad Jakarta. Setelah lulus, pemuda kelahiran Bogor tahun 1903 ini memilih mengabdi di almamaternya, menjadi guru di Madrasah Al-Irsyad di Petojo Jagamonyet (Jakarta Pusat sekarang).
Ketokohan Muhammad Munif tidak terbatas di Al-Irsyad cabang Bogor saja, tapi beliau adalah tokoh Al-Irsyad nasional. Atas jasanya yang besar terhadap Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam Muktamarnya di Jakarta, 6 September 2007 telah menganugerahi gelar Tokoh Pendidikan Al-Irsyad kepada beliau. Gambar beliau juga telah diabadikan dalam seri perangko khusus, yang diterbitkan oleh PT Pos Indonesia dalam rangka menyambut Mukatamar ke-38 Al-Irsyad Al-Islamiyyah di Cibubur, Jakarta.

Bagi mereka yang pernah mengenyam bangku sekolah Al-Irsyad Bogor sebelum tahun 1975, tentu mereka akan mengenal lebih dekat dengan tokoh karismatik ini, yang memiliki peranan amat penting dalam Perhimpunan Al-Irsyad A-Islamiyyah, terutama sekali dalam dunia pendidikan.
Sebagai salah seorang pendidik dan kepala sekolah Al-Irsyad Bogor sejak tahun 1930-an, Al-Ustadz Muhammad Munif telah banyak melahirkan generasi pelanjut estafeta kepemimpinan di Al-Irsyad Bogor. Anak didiknya yang tersebar di berbagai pelosok cabang Al-Irsyad di Indonesia, merupakan benih-benih yang beliau tanam dan telah menjadi kader-kader Irsyadi.
Asramanya yang terkenal, At-Taujih Al-Islami, yang berlokasi persis di belakang rumah beliau di Gang Apu, Bondongan, Bogor, adalah basis utama beliau mencurahkan dan mengabdikan dirinya dalam dunia pendidikan, sebagai sebuah kesinambungan dari pemikiran dan keteladanan gurunya, Syekh Ahmad Surkati.
Tidak sedikit dari anak didik beliau yang pernah menghuni asaramanya kini telah telah menjadi kader-kader irsyadi yang patut dibanggakan. Misalnya, Lutfie Attamimi (direktur Majalah Islam Sabili), almarhum Maman Abdurrahman bin Sillim (pernah sekretaris PW Al-Irsyad Jabar), dan seabrek kader lainnya. Mereka mendapatkan gemblengan rutin dari Ustadz Muhammad Munif di asrama tersebut.
Tokoh-tokoh Al-Irsyad Bogor seperti Ustadz Ja’far Balfas, Ustadz Usman Amir (alm), Ustadz Abdullah Karamah (alm), Ustadz Hasyim Askar (alm), Ustadz Ali Azzan Abdat (alm), hingga Dr. Ir. Said Harran, MSc, adalah termasuk sederet nama murid-murid utama beliau yang beruntung karena merasakan langsung pemikiran dan pemahaman Syekh Ahmad Surkati melalui gurunya, Almaghfirlahu Ustadz Muhammad Munif.
Sebagai alumnus Madrasah Al-Irsyad di Jakarta yang mendapatkan didikan langsung dari Syekh Ahmad Surkati, Ustadz Muhammad Munif memulai pengabdiannya dalam Perhimpunan dengan menjadi tenaga pengajar pada almamaternya, Madrasah Al-Irsyad, di Petojo Jaga Monyet, Jakarta. Namun, ia tak lama menjadi guru di sana karena di tahun 1930 beliau harus memenuhi tugas barunya, menjadi tenaga pengajar pada Madrasah Al-Irsyad di kota Bogor. Syekh Ahmad Surkati memang menugaskan murid-murid utamanya untuk menjadi kepala madrasah atau guru di sekolah-sekolah Al-Irsyad di beberapa kota.
Kemajuan dan perkembangan Madrasah Al-Irsyad Bogor merupakan prestasi beliau yang layak dicatat dalam lembaran sejarah Al-Irsyad. Sebagai seorang kepala madrasah, Ustadz Muhammad Munif menerapkan penggunaan Bahasa Arab sebagai bahasa resmi dalam proses belajar mengajar. Maka tak heran bila murid-murid Al-Irsyad kala itu mahir dalam berbahasa Arab.
Ustadz Muhammad Munif berhasil membawa Madrasah Al-Irsyad Bogor mencapai puncaknya, hingga menjadi sekolah favorit di masanya, dengan jumlah murid yang membludak hingga gedung sekolah yang ada tak mampu lagi menampung minat muslimin Bogor menyekolahkan anaknya di Al-Irsyad. Terlahirlah ide oleh beliau untuk membuka sekolah filial pada tahun 1941 di jalan Kebon Jahe, Bogor. Kelak nama Kebon Jahe berubah, dan sekarang menjadi Jalan Perintis Kemerdekaan. Ia merintis madrasah bernama “Al-Irsyad Boeitenzorg School” itu bersama keluarga Al-Bawahab. Sayang, keberadaan sekolah filial (cabang) ini hanya tinggal kenangan sejarah.
Setelah beberapa tahun masa penugasan dan pengabdiannya di Bogor, Ustadz Muhammad Munif pun mendapat tugas baru untuk menjadi guru sekaligus kepala sekolah di Madrasah Al-Irsyad Pekalongan (Jawa Tengah). Dan di kota batik ini, beliau kembali menorehkan sejarah. Berkat ketekunannya, beliau mampu membangun Gedung Perguruan Al-Irsyad Pekalongan yang terkenal dengan gapuranya yang khas. Di bawah bimbingan beliau juga, sekolah dan cabang Al-Irsyad Pekalongan kian terkenal, karena dari sinilah muncul gambar atau lambang Al-Irsyad.
Menurut keterangan salah seorang alumni Al-Irsyad Pekalongan yang juga salah satu murid beliau, Letnan Kolonel Iskandar Idris (alm.), Ustadz Muhammad Munif melemparkan ide merancang lambang tersebut kepada murid-muridnya, dan hasil rancangan tersebut kemudian disempurnakan oleh beliau. Hasilnya adalah lambang yang sampai sekarang masih dipergunakan sebagai logo resmi Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah.
Beberapa murid yang pernah dididik langsung oleh Muhammad Munif di Madrasah Al-Irsyad Pekalongan, yang kemudian menjadi orang penting di Perhimpunan Al-Irsyad adalah (alm) Ustadz Said Hilabi (mantan Ketua Umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah dalam tiga Periode), Ustadz Abdul Azis Basyarahil, hingga KH Abdullah Jaidi yang sekarang menjabat sebagai ketua umum PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah.
Lapangan pendidikan merupakan medan perjuangan dan kehidupan Ustadz Muhammad Munif sampai akhir hayat beliau. Maka, beliau sangat layak mendapatkan gelar sebagai Tokoh Pendidikan dari Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah. Beliau menjalani profesinya sebagai seorang pendidik di Al-Irsyad sebagai sebuah pengabdian. Ia siap ditugaskan mengajar di sekolah Al-Irsyad di daerah manapun. Bahkan tugas itu dianggapnya sebagai sebuah tantangan untuk memajukan dunia pendidikan Al-Irsyad. Tak hanya di Bogor dan Pekalongan, beliau pun pernah  mengabdi dan memegang jabatan sebagai kepala sekolah Al-Irsyad di kota Solo. Salah satu anak didiknya di Solo adalah bapak Ghalib Azis, yang banyak berperan di Yayasan Al-Irsyad Bogor. Demikian pula Bisyir Mubarak Nahdi, yang kemudian menjabat ketua Yayasan Al-Irsyad Solo. Dan banyak lagi anak didik beliau yang tidak dapat disebutkan satu persatu dalam tulisan ini.
Sekembalinya dari Solo, Ustadz Muhammad Munif kembali diangkat sebagai guru dan sekaligus kepala sekolah Al-Irsyad Bogor. Beliau kemudian berperan aktif mewujudkan pembangunan Gedung Perguruan Al-Irsyad yang sekarang masih berdiri megah dan dipergunakan sebagai gedung SDIT Al-Irsyad Al-Islamiyyah, di Jalan Sedane, Bogor. Beliau menjabat sebagai kepala Sekolah Rakyat (SR) Al-Irsyad Bogor dari tahun 1960 hingga 1965. Di samping itu, beliau juga mengajar di beberapa tempat lain, termasuk sebagai dosen pada Akademi Bahasa Arab di Jakarta.
Kiprah dan pengabdiannya dalam kegiatan organisasi Al-Irsyad, diawali ketika para alumni Al-Irsyad atas saran dan ide Syech Ahmad Surkati menyelenggarakan kongres pendahuluan para alumni lulusan sekolah Al-Irsyad Jakarta pada 11 Maret 1930. Ini adalah cikal bakal berdirinya Pemuda Al-Irsyad. Dalam kongres pendahuluan atau voorlopig congres ini dibentuklah Badan Eksekutif Komite Kongres Pemuda Al-Irsyad yang diketuai oleh Ustadz Umar Nadji Baraba, dan Muhammad Munif sebagai Sekretarisnya. Pembentukan Badan Eksekutif tersebut didasari oleh niat para alumni untuk mewadahi kaum muda Al-Irsyad di dalam mengisi dan mengabdikan diri untuk Perhimpunan Al-Irsyad, yang sejak awal masih didominasi kaum tua atau wulaiti.
Sebagai kelanjutan dari kongres tersebut, kemudian berlangsunglah Kongres Pemuda Al-Irsyad pada tanggal 12-13 Mei 1930 di Jakarta. Kongres ini berhasil mendeklarasikan terbentuknya Pengurus Besar Pemuda Al-Irsyad atau Hoofdkwartier Al-Irsyad yang diketuai sendiri oleh Syekh Ahmad Surkati. Kongres ini juga telah berhasil membuat beberapa keputusan penting, di antaranya adalah menerbitkan majalah mingguan berbahasa Arab dengan pemimpin redaksinya Muhammad Munif dan Ali Harharah.
Ustadz Muhammad Munif juga pernah terpilih duduk dalam kepengurusan Hoofdbestuur Al-Irsyad, atau yang sekarang dikenal dengan istilah Pimpinan Pusat Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sebagai Komisaris, melalui Rapat Umum Anggota (sejenis muktamar atau Kongres) di gedung sekolah Al-Irsyad di Petojo Jaga Monyet (Jakarta), pada 27 Agustus 1938 dan 15 Juli 1939. Dan, jabatan tersebut kembali diamanahkan kepada beliau pada 1 Agustus 1954 melalui mekanisme reshuffle Pengurus Besar Al-Irsyad hasil Muktamar ke 28 di Surabaya yang mengangkat Ali Hubeis sebagai ketua umum Pengurus Besar Al-Irsyad Al-Islamiyyah.
Selama hidupnya, Ustadz Muhammad Munif menikah tiga kali dan memiliki sebelas anak. Pertama, dengan Zainah binti Muhammad Degel, yang melahirkan tujuh anak: Balqis, Faruq, Rasyid, Ahmad (1943), Abdullah, Khansa, dan Basyir. Namun Zainah wafat di usia muda, 34 tahun. Kemudian Muhammad Munif menikah lagi dengan Badriyah Ali Munif, yang memberinya satu anak perempuan bernama Wardah. Namun pernikahan itu tidak langgeng dan keduanya bercerai. Terakhir Muhammad Munif menikahi Aliyah binti Ali Ajaj, yang memberinya tiga anak: Najiah, Syakir, dan Rafidah.*

Sumber :
http://www.al-irsyad.com/biografi-muhammad-munif/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar